Cara Pasang Iklan Native di Blog yang Disukai Pengunjung

Iklan Native (native ad) merupakan format iklan asli yang memiliki performa dan kualitas terbaik, mudah terpadu/menyesuaikan tampilan dengan desain template/tema, desain konten dalam situs dan responsif dengan berbagai jenis ukuran layar perangkat pengguna. Hal ini membuat UX (user experience) tidak terganggu selama kunjungan. 

Sebagai seorang blogger sekaligus publisher (penerbit), memperhatikan kenyamanan pengguna atau pengunjung adalah prioritas. Semakin pengguna merasa nyaman, akan semakin meningkat juga perolehan engagement terhadap situs. 

Namun demikian, tak jarang publisher lupa bahwa selain kualitas konten yang diterbitkan, pengguna juga merupakan salah satu pembangun kesuksesan suatu blog atau situs web yang dimiliki. Terutama jika situs telah terintegrasi dengan layanan advertising di internet. 

Nah, perlu diketahui bahwa pemasangan iklan berlebihan dalam suatu halaman situs cenderung menurunkan user engagement dari waktu ke waktu. Sobat yang berstatus sebagai partner dari suatu advertising services tak mungkin lagi asing dengan hal ini, bukan?

Pengguna sesungguhnya tak suka terganggu jika sedang serius membaca konten artikel. Misalnya, mereka sedang asyik membaca artikel tetapi di dalamnya terdapat sangat banyak ads yang tidak relevan dengan konten publikasi, terlihat kacau, apalagi jika  mereka sulit membedakan mana lanjutan konten dan iklan. Mereka mungkin saja masih betah dalam kurun waktu tertentu sebelum mereka memutuskan untuk tidak kembali lagi di lain waktu.

Sebenarnya, memasang iklan dalam situs tak perlu berupaya memanipulasinya dengan berbagai cara. Tunjukanlah kepada pengguna jika itu adalah iklan. Mereka pun akan mengikuti rujukannya jika hal tersebut dianggap penting atau menarik.

Demikian halnya dengan Iklan native yang dirancang untuk membuat pengguna tetap merasa nyaman selama terhubung dengan halaman blog. Selain itu, tampilan situs juga terlihat lebih bersih dan menarik. 

Panduone mengistikahkannya dengan "UI for UX", yang mana UI adalah User Interface.

Native Ad dan UX User interface

Untuk itu, pemasangan iklan native di blog yang tidak mengganggu pengunjung perlu sobat terapkan. 

Perhatian! Pembahasan dalam artikel ini hanyalah sebatas eksperimen Panduone selama memonetisasi trafik situs kepada jaringan terpercaya di internet; yang dibagikan dengan itikad baik dan tidak ada jaminan atas keandalannya. Segala risiko praktik, sepenuhnya merupakan tanggung jawab anda sendiri.

Nah. Seperti kita ketahui bersama bahwa iklan asli (native ad) memiliki berbagai format, ukuran dan kesesuaian penempatannya terhadap situs yang digunakan. Semuanya tergantung dengan ketersediaan dari program masing-masing layanan. Meski begitu, apapun jenis layanan periklanan native yang anda gunakan, hal yang perlu diketahui adalah bagaimana cara efektif menempatkannya dalam situs/blog yang dapat menghasilkan user experience yang lebih baik. 

Namun sebelumnya, silakan pahami jenis format ads yang memberikan kualitas negatif terhadap pengguna.

Coalition for Better Ads mengidentifikasi beberapa jenis tampilan iklan yang sebaiknya dihindari publisher agar pengalaman pengguna tetap terjaga dengan baik yaitu:

1. Desktop 

Hindari mengaktifkan beberapa jenis ad yang biasanya dapat ditampilkan melalui layar desktop, seperti terlihat pada gambar berikut.

Desktop - Better Ads Standard

Sesuai dengan tampilan desktop, beberapa jenis format iklan yang sering mengganggu pengguna adalah: Pop-Up Ads, Auto-playing video Ads with Sound, Prestitial Ads with Countdown dan Large Sticky Ads.

Pop-up Ads. Ini adalah jenis iklan yang biasanya melayang timbul ke bagian permukaan layar desktop dan menutupi sebagian konten ketika pengunjung/pengguna sedang mengakses halaman situs/blog. Jenis iklan ini umumnya sangat mengganggu apalagi jika berulang hingga berkali-kali. Selain membuat pengunjung repot menutupnya, fokus utama mereka dapat terganggu seketika itu. 

Auto-playing video Ads with Sound. Ini adalah jenis iklan video yang langsung memutar cuplikannya ketika halaman web/blog diakses oleh pengguna. Tak hanya itu, audio (suara) dalam video pun ikut terdengar. Iklan seperti ini sangat mengganggu apalagi jika pengguna sedang ingin suasana tenang dan hening. Dengan kesan seperti ini, memungkinkan mereka akan berpikir-pikir untuk kembali lagi ke alamat situs yang sama di lain waktu.

Prestitial Ads with Countdown. Ini adalah jenis iklan yang muncul sebelum halaman yang dikunjungi berhasil termuat sepenuhnya. Dengan kata lain, iklan ini lebih duluan muncul dan menutupi seluruh tampilan halaman serta memberikan penundaan akses dengan aktivasi perhitungan angka mundur. Halaman baru akan terbuka setelahnya. Ini juga sangat mengganggu. 

Large Sticky Ads. Ini adalah jenis iklan dengan posisi tetap atau lengket (sticky) pada bibir layar desktop dengan ukuran yang lebih lebar/tinggi. Jenis iklan ini dapat menutupi lebih 1/4 ukuran layar desktop atau lebih sehingga mengganggu pengguna. Beda halnya dengan sticky widget untuk tempat iklan di sidebar situs yang tidak menutupi konten halaman dan terlihat rapi.


2. Mobile 

Beberapa format iklan yang mengganggu versi perangkat seluler (mobile), seperti pada gambar berikut.

Mobile ads

Terdapat 8 format ads yang perlu dihindari khusus tampilan versi seluler, yakni: Pop-up Ads, Prestitial Ads, Ad Desity Higher Than 30%, Flashing Animated Ads, Auto-playing Video Ads with Sound, Postitial Ads with Countdown, Full-screen Scrollover Ads, dan Large Sticky Ads.

Pop-up Ads. Ini adalah jenis iklan yang biasanya melayang timbul ke bagian permukaan layar mobile dan menutupi sebagian konten ketika pengunjung/pengguna sedang mengakses halaman situs/blog. Jenis iklan ini umumnya sangat mengganggu apalagi jika berulang hingga berkali-kali. Selain membuat pengunjung repot menutupnya, fokus utama mereka juga terganggu.

Prestitial Ads. Ini adalah jenis iklan yang muncul sebelum halaman yang dikunjungi berhasil termuat sepenuhnya. Dengan kata lain, iklan ini lebih duluan muncul dan menutupi seluruh tampilan halaman mobile. Halaman baru akan terbuka setelahnya. Ini juga sangat mengganggu. 

Ad Desity Higher Than 30%. Ini adalah kepadatang iklan In-page (dalam halaman atau konten artikel) yang lebih dari 30% dari keseluruhan nilai tampilan konten. Artinya, semakin banyak ikan yang tampil bersamaan dengan konten artikel, semakin buruk di mata pengguna. Sebaiknya, hindari!

Flashing Animated Ads. Ini jenis iklan animasi berkedip. Iklan ini biasanya dibuat berkedip untuk mengalihkan perhatian pengguna terhadapnya. Namun di sisi lainya, ternyata tidak memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik.

Auto-playing video Ads with Sound. Ini adalah jenis iklan video yang langsung memutar cuplikannya ketika halaman web/blog diakses oleh pengguna melalui perangkat seluler (mobile). Tak hanya itu, audio (suara) dalam video pun ikut terdengar. Iklan seperti ini sangat mengganggu.

Postitial Ads with Countdown. Ini adalah jenis iklan yang muncul ketika pengguna sedang menggulir layar perangkat/setelah pengguna masuk pada sesi halaman tertentu. Kehadiran format iklan ini menutupi seluruh layar perangkat seluler dan memberikan hitungan waktu mundur sebelum tombol lanjut dapat ditampilkan. Jenis ini jelas menghambat pengguna yang sedang serius atau asyik membaca artikel.

Full-screen Scrollover Ads. Ini adalah jenis iklan memiliki ukuran vertikal lebih tinggi sehingga  menutupi keseluruhan layar perangkat mobile ketika halaman digulir. Artinya, ad vertikal yang terlalu besak ukurannya juga perlu dihindari.

Large Sticky Ads. Ini adalah jenis iklan dengan posisi tetap atau lengket (sticky) pada bibir layar mobile dengan ukuran yang lebih dari 30% layar perangkat. Jenis iklan ini dapat menutupi lebih 1/4 ukuran layar desktop atau lebih sehingga mengganggu pengguna. 


Nah, setelah mengetahui identifikasi iklan tersebut, pahami spot ad strategis pada situs sobat.


Spots Strategis Blog 

Biasanya, iklan native memiliki format berbeda-beda sesuai dengan produk suatu program advertising services yang terintegrasikan dengan halaman. 

Di sini, tampilan blog atau situs web yang sobat gunakan dianggap dapat membedakan tampilan ads pada perangkat desktop maupun mobile (seluler). 

Selain itu, tergantung pada desain template yang anda gunakan, penempatan iklan akan menghasilkan performa yang lebih bagus. Tetapi, secara umum, beberapa lokasi yang sangat disukai dan menarik perhatian pengguna/pengunjung tanpa membuat mereka terganggu. 

Untuk itu, ketahuilah beberapa spot yang dapat mengimpresi pengunjung yaitu: 

1. Header

Header adalah bagian atas halaman situs.  Lokasi ini adalah lokasi yang sangat awal akan terlihat oleh pengguna.

2. Body

Jika memilih menempatkan ad di dalam body halaman, pastikan juga memiliki panjang teks yang memadai. Artinya, gunakanlah iklan secukupnya dan tidak terlalu berdekatan. Semakin berdekatan akan menimbulkan kesan buruk terdapat pengguna. 

Biasanya, semakin banyak ads terlihat, semakin berkurang ketertarikan pembaca. Dalam beberapa eksperimen yang pernah dilakukan menunjukan bahwa semakin sedikit, semakin menarik. Ingat, pengguna adalah prioritas. 

3. Sidebar 

Sidebar atau bilah sisi situs. Tergantung dengan template yang digunakan. Biasanya spot ini menarik perhatian.  


Spot Strategis pada Layar Perangkat 

Ad yang sesuai di sini adalah sticky ad/anchor dengan format dan ukuran tertentu. 

1. Sisi layar atas (top screen) 

2. Sisi layar bawah (bottom screen). 


Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara peletakannya menjadi menarik dan tidak mengganggu pengguna. 

Nah. Sobat yang menggunakan native ad dari suatu jasa periklanan, perlu mengetahui cara penempatan yang dapat memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna.


Cara Penempatan Ad Tampilan Desktop 

Ingat, desktop memiliki tampilan layar yang lebih luas daripada seluler. Untuk itu, perlu mempertimbangkan jarak/kepadatannya terhadap fokus pengguna. 

Untuk jenis ads in-page, bagian header halaman adalah tempat yang sangat sesuai untuk format 720 x 90 atau 970 x 250. 

Jika memilih memasang pada spot header, pastikan performa halaman situs tetap terjaga. Satu unit sudah cukup. 

Sobat juga boleh menggunakan spot bagian sidebar. Untuk sidebar versi desktop akan lebih menarik menggunakan for 250 x 250, 300 x 250, 300 x 600 dan lainnya sesuai dengan desain tema situs yang digunakan. 

Pastikan tidak menggunakan lebih dari 2 unit di bilah sisi tersebut. Bahkan, satu saja akan terlihat bagus. 

Jika telah menggunakan pada header dan sidebar, perlu sobat pertimbangkan apakah masih perlu dimuat dalam body tempat artikel atau tidak. Coba pertimbangkan. 

Pertimbangkan apakah konten artikelnya banyak atau sedikit. Sesuaikan.

Opsi lainnya, sobat dapat mengisi body artikel lebih dari satu unit, tetapi bagian sidebar dikosongkan. 

Jika pada sidebar dikosongkan dan header digunakan, sebaiknya tidak menempatkan ad selanjutnya di bawah title

Pengguna butuh membaca, bukan melihat ad terlalu berdempetan. Jadi, boleh diletakkan setelah paragraf kedua maupun lebih ke bawahnya. Pastikan pengguna sudah mulai membaca setelah ad pertama terlihat. 

Pada bagian body ini, khusus untuk dalam artikel idealnya (perkiraan Panduone) setiap ad minimal memiliki jarak 40-50 baris kalimat versi desktop untuk penempatan berikutnya. 

Lalu, bagaimana dengan sticky ads/anchor untuk layar desktop? 

Menggunakan sticky ads yang menempel pada sisi layar baik atas maupun bagian bawah, yang paling menarik hanya berukuran max-height: 150px di bagian bottom dan max-height 100px untuk sisi layar atas (top) yang disertai tombol penutup. 

Jika lebih, sangat mengganggu. 


Cara Penempatan Ads Tampilan Seluler 

Tampilan ad di perangkat seluler


Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa ads untuk desktop wajibnya dapat dibedakan dengan seluler (mobile) terutama jika sobat menggunakan lazyload atau Defer JavaScript untuk menunda pemuatan awal. 

Salah satu spot yang tidak efektif pada mobile jika menggunakan lazyload dengan durasi delay mulai dari 3 detik atau lebih yaitu bagian Header khusus untuk in-page ad. 

Artinya, percuma menggunakan spot tersebut jika pengguna lebih dulu menggulir layar untuk menemukan judul konten artikel yang ingin dibaca. Dengan kata lain, pertimbangkan kembali menggunakan slot pada spot header jika menggunakan lazyload khusus perangkat mobile. 

Gunakanlah jika lazyload tidak diaktifkan.

Untuk tampilan sidebar, sebaiknya tidak diaktifkan untuk versi mobile. Itu sangat jauh ke bagian bawah layar. Apalagi jika konten artikel terlalu panjang. Kemungkinan mencapai bagian terakhir sangat sedikit. 

Penempatan in-page ads yang paling efektif untuk tampilan mobile adalah dalam artikel dan di bawah artikel. Meskipun demikian, sesuaikan juga kepadatannya. 

Menurut pengamatan Panduone dalam eksperimennya, spot ad pertama paling potensial versi mobile juga berada pada bagian awal artikel yang memungkinkan berada pada spot setelah 20-25 baris kalimat setelah judul. 

Tidak masalah menggunakan lazyload untuk ad dalam body


Bagaimana dengan anchor ads-nya? 

Penempatan anchor sesuai dengan ukuran tingginya dan tampilannya dalam layar.

1. Ancor dengan height 100 px pada sisi layar atas seluler.

Anchor 100 px

Anchor ad yang memiliki tinggi vertikal 100 px dan responsif, akan sangat menarik jika berada pada sisi layar atas tanpa menutupi halaman atas situs. Penggunaan anchor pada top screen sangat bagus jika menggeser ke bawah bagian atas situs halaman supaya pengguna tidak terganggu dan button menu navigasi dapat digunakan. 

Banyak publisher yang sengaja menonaktifkan spasi ruang anchor bagian atas halaman yang akhirnya memperburuk pengalaman pengguna. Jika halaman tidak bergeser, maka biasanya, menu navigasi yang dibuat sticky sulit digunakan. Tertutup dengan tampilan ad tersebut. 


2. Ancor 100px di bawah layar seluler 

Anchor dengan tinggi 100 px atau lebih yang muncur dan menempel di tepi bawah layar sangat mengganggu pengguna jika langsung aktif pada scrolling layar pertama kali. 

Anchor ad tepi layar bawah.

Perlu diketahui bahwa pemuatan ad seperti ini akan mengganggu letak kenyamanan jari pengguna untuk menggeser layar pada guliran awal. 

Boleh, tetapi bagusnya muncul setelah pengguna telah menggulir layar beberapa kali menuju tengah atau nyaris ke footer halaman. 

Bahkan, iklan anchor atau sticky ad mobile yang lebih dari 100 px pun akan mendapat perhatian yang tepat setelahnya.

Kita juga perlu mengetahui bahwa rata-rata pusat kenyamanan jari menggulir layar pada perangkat mobile mulai dari titik 100 px (dihitung dari titik terendah bottom) hingga ke tengah layar. Ini hanyalah pengamatan Panduone. Coba saja di perangkat selulermu.


3. Anchor dengan height 50 px. 

Anchor 50 px

Jika sobat ingin menerapkan tampilan ad yang berukuran height 50 px, sebaiknya lokasikan pada bagian bottom screen. Jangan lupa memasang tombol penutupnya. Iklan ukuran max-height 50px paling bagus di bagian bottom layar seluler. 


Dengan demikian, sobat telah mengetahui cara pasang/menempatkan iklan native yang disukai pengunjung pada umumnya baik untuk tampilan desktop maupun seluler. Sekali lagi, sobat perlu tahu bahwa artikel ini hanyalah bagian dari eksperimen yang menjadi pengalaman unik Panduone dan tidak ada jaminan untuk keberhasilan tips ini. 

Meskipun demikian, jika dianggap bermanfaat sobat boleh share ke teman atau meninggalkan komentar sesuai tema. 

Sukses selalu! 

1 comment for "Cara Pasang Iklan Native di Blog yang Disukai Pengunjung"